KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
![]() |
| SRI MULYANI, S.Pd.I. Calon Guru Penggerak Angkatan 11 Kabupaten Ciamis |
KONEKSI
ANTAR MATERI MODUL 3.1
PENGAMBILAN
KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
Kompetensi
Lulusan yang Dituju :
o Calon
Guru Penggerak secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan
cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kematangan dirinya.
o Calon
Guru Penggerak mampu menggerakkan komunitas sekolah untuk bersama-sama
mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan
berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal.
Capaian Umum Modul :
o
mampu
melakukan pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan, mampu memahami
dan menerapkan prinsip moral dalam melakukan pengambilan keputusan
o
mampu
menerapkan strategi pengambilan keputusan untuk menghindari adanya isu kode
etik kepemimpinan sekolah dan konflik kepentingan
Capaian Khusus Modul :
Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon
Guru Penggerak untuk mampu:
o
CGP
dapat menjelaskan tentang konsep sekolah sebagai institusi pembentukan karakter
dan nilai-nilai kebajikan sebagai acuan utama dalam pengambilan keputusan
berbasis etika sebagai seorang pemimpin pembelajaran.
o
CGP
dapat melakukan praktik pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan
sebagai seorang pemimpin. CGP dapat mengidentifikasi jenis-jenis paradigma
dilema etika yang dihadapi oleh dirinya sendiri maupun orang lain; CGP
menunjukkan sikap reflektif, kritis, kreatif, dan terbuka dalam
menganalisis dilema tersebut.
o
CGP
dapat memilih 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan
dalam dilema etika.
o
CGP
dapat menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil
dalam dilema etika; CGP bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses
tersebut.
Assalamu’alaykum, perkenalkan saya Sri Mulyani, S.Pd.I., Calon
Guru Penggerak (CGP) Angkatan 11 Kabupaten Ciamis dari SDN 3 Cikaso Kecamatan
Banjaranyar, Provinsi Jawa Barat.
Pendidikan guru penggerak sudah banyak mengubah mindset
saya sebagai guru, banyak hal yang sudah saya pelajari dan saya dapatkan.
Selama menjadi CGP Angkatan 11 ini saya didampingi oleh Ibu Yeyet, Budiyati,
S.Pd., M.Pd. selaku Fasilitator dan Bapak Yosep Setiawan, S.Pd., M.Pd. selaku
pengajar praktik.
Sebelum saya menjelaskan rangkuman materi pengambilan
keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin, marilah kita
renungkan kutipan berikut ini:
“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan
mereka apa yang barharga/utama adalah yang terbaik”
(Bob Talbert)
Kutipan Bob Talbert, “Mengajarkan anak menghitung itu
baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
menggarisbawahi pentingnya mengarahkan pendidikan tidak hanya pada aspek teknis
seperti keterampilan menghitung, tetapi juga pada pemahaman nilai-nilai dan
prinsip kebajikan universal yang lebih dalam. Pendidikan tidak hanya tentang
pengetahuan kognitif. Tetapi pendidikan yang mengajarkan Pendidikan
karakter seperti adab sopan santun (karakter), integritas, kejujuran, keadilan,
empati, dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Pendidikan yang berkarakter akan
menghasilkan produk dan sumber manusia yang mulia dan beradab.
Pada modul 3.1 ini kita belajar bagaimana mengambil
keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin
pembelajaran, pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal
sangat dibutuhkan oleh seorang guru atau kepala sekolah.
“Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia
menjadi berperilaku etis”
(Georg Wilhelm Friedrich Hegel)
Dari kutipan diatas, Pendidikan merupakan proses menuntun
penguatan karakter dan nilai-nilai kebajikan universal yang diterima di seluruh
dunia. Pendidikan karakter sangat penting apalagi di zaman yang sudah modern
seperti ini. Penguatan nilai karakter sangat dibutuhkan generasi sekarang untuk
mencetak generasi pintar tidak hanya di bidang intelektual saja tetapi juga
mempunyai akhlak dan adab yang tinggi.
1. Koneksi
antara filosofi Ki Hajar Dewantara (Modul 1.1) dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin
Ki Hajar Dewantara adalah tokoh pendidikan Indonesia.
Filosofinya, yang dikenal dengan "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya
Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani," menekankan tiga prinsip utama:
- Ing Ngarsa
Sung Tuladha: Seorang pemimpin harus memberi contoh yang baik.
- Ing Madya
Mangun Karsa: Seorang pemimpin harus bisa memotivasi dan menginspirasi di
tengah-tengah kelompoknya.
- Tut Wuri
Handayani: Seorang pemimpin harus memberikan dorongan dan dukungan dari
belakang, mendorong dan membiarkan yang dipimpin berkembang secara
mandiri.
Dalam konteks pengambilan keputusan, filosofi ini
mengajarkan bahwa pemimpin harus memimpin dengan memberikan contoh yang baik,
mendorong kreativitas dan partisipasi dari bawah, serta memberikan dukungan dan
bimbingan yang diperlukan untuk memungkinkan anggota tim berkembang dan
mengambil inisiatif sendiri.
2. Koneksi
antara nilai-nilai Guru Penggerak (Modul 1.2) dengan Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin
Nilai-nilai bagi seorang guru penggerak adalah berpihak
kepada murid, mandiri, kolaboratif, reflektif dan inovatif. Nilai-nilai
tersebut harus ada dalam proses pengambilan keputusan. Nilai-nilai tersebut
sebagai cerminan dari arah keputusan yang akan kita ambil. Seperti tujuan
pengambilan harus berpihak pada murid, mandiri bagaimana kita sebagai guru
merespon suatu konflik dan permasalahan yang ada, kemudian adanya kerja sama
dan kolaborasi tim di dalam penyelesaian masalah, pengambilan keputusan yang selalu
dievaluasi dan direfleksikan untuk perbaikan ke depannya, serta penanganan
masalah dengan cara kreatif dan praktis. Selain itu, pengambilan keputusan ini
juga harus berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang lain seperti keadilan dan
bertanggung jawab.
Pembahasan studi kasus yang fokus pada dilema etika
danbujukan moral sangat bergantung pada nilai-nilai yang dianut pendidik.
Sehingga pendidik atau guru harus memiliki nilai-nilai kebajikan universal,
seperti: kebenaran, keadilan, kejujuran, integritas, tanggung jawab, empati,
kemanusiaan dsb. Dengan merujuk pada nilai-nilai kebajikan universal dan
profesional, pendidik dapat memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak hanya
adil dan etis tetapi juga konsisten dengan prinsip-prinsip yang mereka anggap
penting. Pendekatan berbasis nilai ini membantu dalam membuat keputusan yang
lebih informatif, reflektif, dan bertanggung jawab, sambil memastikan bahwa
keputusan tersebut mendukung kesejahteraan semua pihak yang terlibat.
3.
Koneksi
antara Visi Guru Penggerak (Modul 1.3) dengan Pengambilan Keputusan sebagai
Pemimpin
Pengambilan
keputusan yang tepat sangat berpengaruh atas pencapaian Visi dan Misi yang
telah dirancang. Dengan Pengambilan keputusan yang tepat suasana sekolah akan
lebih kondusif sehingga langkah-langkah menuju tercapainya Visi dan Misi lebih
fokus dan lebih terarah.
4.
Koneksi
antara Budaya Positif (Modul 2.1) dengan Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin
Seorang
pemimpin yang telah bertanggung jawab atas pengelolaan kegiatan pendidikan dan
pencapaiannya. Salah satu bagian penting dari tujuan pendidikan adalah terwujudnya
karakter yang baik pada diri siswa. Penciptaan karakter dilakukan melalui berbagai
tahapan, diantaranya melalui penciptaan budaya positif di sekolahnya. Dengan
kemampuan pemimpin mengambil keputusan, maka akan tercipta iklim sekolah yang
baik menuju terciptanya budaya positif sebagai salah satu media pembentukan
karakter murid.
Keputusan yang tepat memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Dengan memastikan keadilan, membangun kepercayaan, meningkatkan kesejahteraan, dan mendukung partisipasi serta keterlibatan, keputusan yang bijaksana dan etis dapat secara signifikan mempengaruhi kualitas dan atmosfer lingkungan, baik di tempat kerja, sekolah, maupun dalam komunitas.
5. Koneksi
antara Pembelajan untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid / Pembelajaran
Berdiferensiasi (Modul 2.1) dengan Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin
Pembelajaran
Seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan yang tepat dan bijak agar kebutuhan belajar seluruh murid dapat terpenuhi. Seorang pemimpin harus mampu bersikap adil dan memutuskan suatu masalah dengan bijaksana agar tidak ada siswa yang terabaikan kebutuhan belajarnya.
6. Koneksi Antar Pembelajaran Sosial Emosional (Modul 2.2) dengan Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin
Pembelajaran sosial emosional sangat erat hubungannya dengan pengambilan keputusan sebagai pemimpin. Seorang pemimpin harus menguasai Kompetensi Sosial Emosional (KSE), yaitu:
- Kesadaran diri
- Manajemen diri
- Kesadaran sosial
- Keterampilan berelasi
- Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab
Dengan
menguasai Kompetensi Sosial Emosional
(KSE) seorang pemimpin akan lebih bijak dalam pengambilan keputusan sehingga
iklim sekolah akan selalu kondusif dan kebutuhan belajar muridpun akan
terpenuhi.
Pengelolaan
dan kesadaran aspek sosial-emosional memainkan peran penting dalam proses
pengambilan keputusan, terutama ketika menghadapi dilema etika. Guru yang mampu
mengelola emosi mereka (kesadaran diri), manajemen diri, kesadaran sosial
dengan rasa empati yang tinggi terhadap orang lain, tetap menjaga hubungan
komunikasi baik dengan orang yang terlibat dan tetap konsisten dengan
nilai-nilai etika mereka, akan membuat keputusan yang bertanggung jawab, lebih
adil, rasional, dan berdampak positif bagi lingkungan pendidikan.
7. Koneksi
antara Coaching untuk Supervisi Akademik (Modul 2.3) dengan Pengambilan
Keputusan sebagai Pemimpin.
Coaching bertujuan untuk membantu individu atau kelompok
dalam proses pengambilan keputusan dengan cara yang lebih terstruktur dan
reflektif. Dalam sesi coaching, pendamping atau fasilitator akan:
- Membantu Mengidentifikasi Tujuan: Mengarahkan
klien untuk memahami tujuan mereka dengan lebih jelas, yang akan membantu
dalam pengambilan keputusan yang lebih terfokus.
- Menyediakan Perspektif Baru:
Mengajukan pertanyaan yang mendorong klien untuk melihat situasi dari
berbagai sudut pandang, sehingga keputusan yang diambil lebih informatif.
- Memfasilitasi Refleksi: Membantu
klien untuk merefleksikan keputusan yang telah diambil, termasuk
mengevaluasi hasil dan proses pengambilan keputusan tersebut.
Coaching
dengan TIRTA dapat membantu guru dan pendidik untuk mengidentifikasi
permasalahan yang terjadi, sehingga dapat membantu klien untuk menyelesaikan
masalahnya dengan pertanyaan-pertanyaan berbobot. Model alur TIRTA sangat
berkaitan dengan 9 langkah pengambilan keputusan. Secara keseluruhan, coaching
memberikan kita dukungan dalam proses pengambilan keputusan dengan
memfasilitasi refleksi, evaluasi, dan pengembangan keterampilan. Ini
memungkinkan kita untuk membuat keputusan yang lebih baik dan lebih efektif
serta menghadapi tantangan dengan lebih percaya diri.
Perubahan yang akan diterapkan
Sebagai sebuah institusi moral, sekolah adalah sebuah
miniatur dunia yang berkontribusi terhadap terbangunnya budaya,
nilai-nilai, dan moralitas dalam diri setiap murid. Perilaku
warga sekolah dalam menegakkan penerapan nilai-nilai yang diyakini dan dianggap
penting oleh sekolah, adalah teladan bagi murid. Kepemimpinan kepala sekolah
tentunya berperan sangat besar untuk menciptakan sekolah sebagai institusi
moral.
Dalam menjalankan perannya, tentu seorang pemimpin di
sekolah akan menghadapi berbagai situasi dimana ia harus mengambil suatu
keputusan dimana ada nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar,
namun saling bertentangan. Situasi seperti ini disebut sebagai sebuah dilema
etika. Disaat itu terjadi, keputusan mana yang akan diambil? Tentunya ini bukan
keputusan yang mudah karena kita akan menyadari bahwa setiap pengambilan
keputusan akan merefleksikan integritas sekolah tersebut, nilai-nilai apa yang
dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan keputusan-keputusan yang diambil
kelak akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah dan
lingkungan sekitarnya.
Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita
bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan
dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku
secara universal, seperti yang telah disampaikan di atas. Seseorang yang
memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan
prinsip-prinsip etika yang pasti. Prinsip-prinsip etika sendiri
berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui
bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama
seseorang.
Dalam keterampilan pengambilan keputusan seringkali
berbagai kepentingan saling bersinggungan, dan ada pihak-pihak yang akan merasa
dirugikan atau tidak puas atas keputusan yang telah diambil. Perlu diingat
bahwa kegiatan pengambilan keputusan adalah suatu keterampilan, semakin sering
kita melakukannya maka semakin terlatih, fokus, dan tepat sasaran. Sesulit
apapun keputusan yang harus diambil untuk permasalahan yang sama-sama benar,
sebagai seorang pemimpin, kita perlu mendasarkan keputusan kita pada 3 unsur
yaitu berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan
bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil,
sebagaimana digambarkan dalam gambar berikut:
Empat Paradigma Dilema Etika
Dari pengalaman kita bekerja kita pada institusi
pendidikan, kita telah mengetahui bahwa dilemma etika adalah tantangan berat
yang harus dihadapi dari waktu ke waktu.
Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada
nilai-nilai kebajikan mendasar yang bertentangan seperti cinta dan kasih
sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan
penghargaan akan hidup.
Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi
pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:
· Individu
lawan kelompok (individual vs community)
·
Rasa
keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
· Kebenaran
lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
· Jangka
pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Berikut penjelasan dari keempat paradigma tersebut:
Individu
lawan kelompok (individual vs community)
Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu
lawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi
bagiannya. Paradigma ini, bisa juga berhubungan dengan konflik antara kepentingan
pribadi lawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil lawan kelompok besar.
‘Individu’ di dalam paradigma ini tidak selalu berarti
‘satu orang’, tapi dapat juga berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan
kelompok yang lebih besar. ‘Kelompok’ dalam paradigma ini dapat berarti kelompok
yang lebih besar lagi, bisa berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya,
tapi juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau
keluarga Anda.
Dilema individu melawan kelompok adalah tentang bagaimana
membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil, dan
apa yang benar untuk kelompok yang lebih besar. Sebagai guru terkadang kita
juga harus membuat pilihan seperti ini di dalam kelas. Satu kelompok membutuhkan
waktu yang lebih lama untuk mengerjakan sebuah tugas, sementara ada kelompok
lain yang dapat menyelesaikannya dengan lebih cepat sehingga mereka sudah siap
untuk masuk ke pelajaran berikutnya, apakah keputusan yang akan diambil oleh
guru? Dalam situasi ini,
guru mungkin menghadapi dilema individu lawan kelompok.
Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
Dalam paradigma ini, pilihannya adalah antara mengikuti
aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Kita bisa memilih untuk
berlaku adil dengan memperlakukan hal yang sama bagi semua orang, atau membuat
pengecualian dengan alasan kemurahan hati dan kasih sayang.
Terkadang memang benar untuk berpegang teguh pada
peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga tindakan yang benar.
Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap
keadilan (atau sama rata). Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat
berdasarkan rasa kasihan (kebaikan) Misalnya ada peraturan di rumah, Anda harus
ada di rumah pada saat makan malam. Misalnya suatu hari Anda pulang ke rumah
terlambat karena seorang teman membutuhkan bantuan Anda. Situasi ini dapat
menunjukkan dilema keadilan lawan rasa kasihan, terhadap orang tua Anda. Apakah
ada konsekuensi dari melanggar peraturan tentang pulang ke rumah tepat waktu
untuk makan malam, atau haruskah orang tua Anda membuat pengecualian?
Kebenaran
lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai
yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita harus memilih antara
jujur atau setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan
jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita akan menjunjung nilai
kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat
sebelumnya.
Pada situasi perang, tentara yang tertangkap terkadang
harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya kepada pihak musuh atau tetap
setia kepada teman tentara yang lain. Hampir dari kita semua pernah mengalami
harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman (saudara)
yang dalam masalah. Ini adalah salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran
melawan kesetiaan.
Jangka
pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati.
Seringkali kita harus memilih keputusan yang kelihatannya terbaik untuk saat
ini atau yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi
pada hal-hal yang setiap harinya terjadi pada kita, atau pada lingkup yang
lebih luas misalnya pada isu-isu dunia secara global, misalnya lingkungan hidup
dan lain lain.
Sebagai orangtua, kita seringkali harus membuat pilihan
ini, contohnya: ketika kita harus memilih antara seberapa banyak uang untuk
digunakan sekarang dan seberapa banyak untuk ditabung nanti. Pernahkah Anda
harus memilih antara menggunakan uang anda untuk makan favorit Anda atau
berlatih instrumen musik atau berolahraga? Bila iya, Anda telah membuat pilihan
antara jangka pendek melawan jangka panjang.
Etika sendiri tentunya bersifat relatif, dan bergantung
pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan baku yang berlaku. Tentunya ada
prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di sini adalah yang paling
sering dikenali dan digunakan. Dalam seminar-seminar, ketiga prinsip ini yang
seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh
tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder,
2009, hal 144).
Tiga
prinsip pengambilan Keputusan tersebut adalah:
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Suatu pengambilan keputusan, walaupun telah berlandaskan pada suatu prinsip
atau nilai-nilai tertentu, tetap akan memiliki konsekuensi yang mengikutinya.
Pada akhirnya kita perlu mengingat kembali hendaknya setiap keputusan yang kita
ambil didasarkan pada rasa penuh tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan
universal, serta berpihak pada murid.
Konsep
Pengambilan dan Pengujian Keputusan
Untuk memandu kita dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang membingungkan, ada 9 langkah yang dapat dilakukan :
1.
Mengenali
nilai-nilai yang saling bertentangan Mengapa langkah ini penting untuk Anda
lakukan?
Pertama, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih seksama, penting bagi kita untuk mengidentifikasi masalah yang sedang kita hadapi. Kedua, penting bagi kita untuk memastikan bahwa masalah yang kita hadapi memang betul betul berhubungan dengan aspek moral, bukan sekedar masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial.
Proses
pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail; apa
yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, apa yang
akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka Tidak mudah untuk
bisa mengenali hal ini. Kalau kita terlalu berlebihan, kita bisa terjebak dalam
situasi seolah-olah kita terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan
mempermasalahkan kesalahan-kesalahan kecil. Sebaliknya bila kita terlalu
permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek
permasalahan etika dalam masalah yang sedang kita hadapi.
Tidak mudah untuk bisa mengenali hal ini. Kalau kita terlalu berlebihan, kita bisa terjebak dalam situasi seolah-olah kita terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan kesalahan-kesalahan kecil. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika dalam masalah yang sedang kita hadapi.
2.
Menentukan
siapa yang terlibat dalam situasi ini
Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi yang sedang kita hadapi, pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Bukan berarti kalau permasalahan tersebut bukan dilema kita, maka kita menjadi tidak peduli. Karena kalau permasalahan ini sudah menyangkut aspek moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil.
3.
Kumpulkan
fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
Proses pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail; apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya. Data-data tersebut penting karena dilema etika tidak bersifat teoritis, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang mempengaruhi situasi tersebut, sehingga data yang detail akan menjelaskan alasan seseorang melakukan sesuatu dan bisa juga mencerminkan kepribadian seseorang dalam situasi tersebut. Kita juga harus bisa menganalisis hal-hal apa saja yang potensial yang bisa terjadi di waktu yang akan datang.
4. Pengujian benar atau salah
Uji Legal
Pertanyaan penting di uji legal ini adalah apakah ada
aspek pelanggaran hukum dalam situasi itu? Bila jawabannya adalah iya, maka
situasi yang ada bukanlah antara benar lawan benar (dilema etika), namun antara
benar lawan salah (bujukan moral). Keputusan yang harus diambil dalam situasi
adalah pilihan antara mematuhi hukum atau tidak, dan keputusan ini bukan
keputusan yang berhubungan dengan moral.
b.
Uji Regulasi/Standar Profesional
Bila situasi yang dihadapi adalah dilema etika, dan tidak
ada aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mari kita uji, apakah ada pelanggaran
peraturan atau kode etik di dalamnya. Konflik yang terjadi pada seorang
wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang
tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh
koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda,
tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.
c.
Uji Intuisi
Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi
Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan
ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini
akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan
nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan
langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang,
sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua
nilai yang sama-sama benar.
d.
Uji Publikasi
Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini
dipublikasikan di media cetak maupun elektronik dan menjadi viral di media
sosial. Sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi
konsumsi publik? Coba Anda bayangkan bila hal itu terjadi. Bila Anda merasa
tidak nyaman kemungkinan besar Anda sedang menghadapi benar situasi benar lawan
salah atau bujukan moral.
e.
Uji Panutan/Idola
Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan
dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda.
Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang
kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda
dan orang yang sangat berarti bagi Anda.
Yang perlu dicatat dari kelima uji keputusan tadi, ada
tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu:
Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis
peraturan (Rule-Based Thinking) yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi
bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam.
Uji publikasi, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir
berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir.
Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir
berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), dimana ini berhubungan dengan
golden rule yang meminta Anda meletakkan diri Anda pada posisi orang lain.
Bila situasi dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu uji keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil resiko membuat keputusan yang membahayakan atau merugikan diri Anda karena situasi yang Anda hadapi bukanlah situasi moral dilema, namun bujukan moral yaitu benar atau salah.
5.
Pengujian
Paradigma Benar lawan Benar
Dari
keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi yang
sedang Anda hadapi ini?
- Individu lawan kelompok (individual vs community)
- Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
- Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs
loyalty)
- Jangka pendek lawan jangka panjang (short
term vs long term)
Pentingnya
mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya mengelompokkan permasalahan, namun
membawa penajaman bahwa situasi yang Anda hadapi betul-betul mempertentangkan
antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama[1]sama
penting.
6.
Melakukan Prinsip Resolusi
Dari
3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?
- Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
- Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
- Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
7.
Investigasi Opsi Trilema
Dalam mengambil keputusan, seringkali ada 2 pilihan yang bisa kita pilih. Terkadang kita perlu mencari opsi di luar dari 2 pilihan yang sudah ada. Kita bisa bertanya pada diri kita, apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah. Itulah yang dinamakan investigasi opsi trilema.
8.
Buat Keputusan
Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya
9.
Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan
Ketika
keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil
pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.
Perlu kita ingat bahwa 9 langkah pengambilan keputusan
ini adalah panduan, bukan sebuah metode yang kaku dalam penerapannya.
Pengambilan keputusan ini juga merupakan keterampilan yang harus diasah agar
semakin baik. Semakin sering kita berlatih menggunakannya, kita akan semakin
terampil dalam pengambilan keputusan. Hal yang penting dalam pengambilan
keputusan adalah sikap yang bertanggung jawab dan mendasarkan keputusan pada
nilai-nilai kebajikan universal
Penerapan di masa yang akan datang
Setelah mempelajari modul ini :
·
Saat
saya harus mengambil keputusan diantara dua pilihan, saya harus memastikan
keputusan yang diambil benar-benar bijak dan berpihak pada murid
·
Dalam
pengambilan keputusan saya akan tetap memperhatikan nilai-nilai Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid
·
Keputusan
yang diambil adalah yang mengarah pada terwujudnya Visi dan Misi yang telah
disusun baik secara pribadi maupun kelembagaan.
·
Keputusan
yang diambil diarahkan pada terciptanya iklim sekolah yang baik dan kondusif
agar dapat mewujudkan budaya positif yang diharapkan
·
Pengambilan
keputusan harus mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan universal agar dapat
memenuhi kebutuhan belajar murid dan menciptakan lingkungan belajar yang aman nyaman
bagi seluruh murid.
·
Saya
juga akan terus mengasah Kompetensi Sosial Emosional (KSE) agar dapat lebih
bijak dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin.
·
Dalam
melaksanakan Supervisi Akademik, saya akan melakukan coaching dengan alur TIRTA
(Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dan Tanggung jawab)
·
Saya
akan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan empat paradigma dilema etika, menggunakan
tiga prinsip pengambilan keputusan, serta melalui 9 langkah pengambilan
keputusan.


Tugas Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Calon Guru Penggerak Angkatan 11
ReplyDeleteMaterinya bagus, sangat bermanfaat
ReplyDeleteMateri yang sangat penting, penyampaian yang terperinci, sangat menginsfirasi. Goodjobs
ReplyDelete